Ayesha Curry Benci Statusnya Sebagai Istri Bintang NBA. Kehidupan di bawah sorotan publik bukanlah hal mudah, bahkan bagi seseorang seperti Ayesha Curry, istri dari superstar NBA Stephen Curry. Dalam wawancara terbaru di podcast “Call Her Daddy” pada 20 Agustus 2025, Ayesha mengungkapkan perasaannya tentang statusnya sebagai istri bintang Golden State Warriors, yang ternyata tidak selalu menyenangkan. Komentar-komentarnya memicu diskusi luas di kalangan penggemar, terutama setelah Warriors membuka musim NBA 2025/2026 dengan kemenangan 118-104 atas Portland Trail Blazers pada 23 Agustus 2025, di mana Stephen kembali mencuri perhatian dengan 34 poin. Ayesha, yang dikenal sebagai pengusaha, penulis, dan ibu tiga anak, berbagi cerita jujur tentang tantangan hidup di samping seorang ikon olahraga, membuat banyak orang bertanya-tanya tentang dinamika kehidupan pribadinya. BERITA LAINNYA
Siapa Itu Ayesha Curry
Ayesha Curry, lahir pada 23 Maret 1989 di Toronto, Kanada, adalah pengusaha, penulis buku masak, dan tokoh televisi yang dikenal sebagai istri Stephen Curry, point guard legendaris Golden State Warriors. Ayesha pertama kali bertemu Stephen di gereja saat mereka remaja, menikah pada 2011, dan kini memiliki tiga anak: Riley, Ryan, dan Canon. Ia membangun karier sendiri melalui brand kuliner Sweet July, yang mencakup majalah, kafe, dan produk makanan, serta menulis buku masak laris seperti The Full Plate. Ayesha juga menjadi pembawa acara Ayesha’s Home Kitchen di Food Network dan tampil sebagai juri di berbagai acara masak. Meski sukses secara individu, ia sering dikaitkan dengan statusnya sebagai istri Curry, yang telah memenangkan empat gelar NBA dan dua penghargaan MVP. Kepribadiannya yang hangat dan keterlibatannya dalam filantropi membuatnya disukai, tetapi ia juga menghadapi tekanan publik yang besar.
Kenapa Dia Membenci Statusnya Sebagai Istri Bintang NBA
Dalam wawancara di “Call Her Daddy,” Ayesha mengaku pernah “membenci” sorotan publik yang datang bersama statusnya sebagai istri Stephen Curry, terutama di awal karier NBA sang suami. Ketika Stephen direkrut Warriors pada 2009, Ayesha merasa kewalahan dengan perhatian media dan penggemar yang terus-menerus mengikuti kehidupan mereka. Ia menyebut tekanan untuk selalu tampil sempurna di depan publik, ditambah ekspektasi untuk mendukung karier Stephen, sebagai hal yang “membingungkan dan melelahkan.” Ayesha juga mengungkapkan bahwa ia kesulitan mempertahankan identitasnya sendiri karena sering dianggap hanya sebagai “istri Steph Curry,” bukan individu dengan karier dan ambisi sendiri. Komentar negatif di media sosial, terutama tentang penampilan atau perannya sebagai ibu, semakin memperburuk pengalamannya. Ia merasa kehilangan privasi, terutama saat kelahiran anak-anaknya menjadi berita nasional, membuatnya merasa seperti “karakter dalam drama” ketimbang manusia biasa.
Apakah Sampai Saat Ini Dia Masih Membenci Statusnya Tersebut
Meski Ayesha pernah membenci statusnya, ia menunjukkan bahwa perasaannya telah berkembang seiring waktu. Dalam wawancara yang sama, ia menjelaskan bahwa kini ia lebih mampu menerima sorotan publik sebagai bagian dari kehidupan bersama Stephen. Ayesha mengatakan bahwa ia telah belajar untuk fokus pada hal-hal yang bisa dikontrolnya, seperti bisnis Sweet July dan keluarganya, sambil mengabaikan komentar negatif. Dukungan dari Stephen, yang selalu mendorongnya mengejar passion-nya, juga membantu. Ia kini melihat statusnya sebagai peluang untuk menginspirasi orang lain, terutama melalui filantropi dan advokasi untuk kesehatan mental. Namun, Ayesha tetap jujur bahwa ada hari-hari ketika tekanan masih terasa berat, terutama ketika anak-anaknya mulai terpapar perhatian publik. Meski begitu, ia menegaskan bahwa ia tidak menyesali pernikahannya dengan Stephen, melainkan hanya berharap bisa menavigasi sorotan publik dengan lebih banyak privasi.
Kesimpulan: Ayesha Curry Benci Statusnya Sebagai Istri Bintang NBA
Pengakuan Ayesha Curry tentang kebenciannya terhadap status sebagai istri bintang NBA mengungkap sisi manusiawi dari kehidupan di bawah sorotan publik. Sebagai pengusaha sukses dan ibu yang berdedikasi, Ayesha menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan identitasnya di tengah bayang-bayang karier megah Stephen Curry. Meski awalnya merasa terbebani oleh perhatian media dan ekspektasi publik, ia kini menunjukkan kematangan dalam menerima realitas tersebut sambil terus membangun kariernya sendiri. Kisah Ayesha adalah pengingat bahwa bahkan di balik gemerlap dunia olahraga, ada perjuangan pribadi yang nyata. Dengan keseimbangan antara karier, keluarga, dan dukungan dari Stephen, Ayesha membuktikan bahwa ia mampu menjalani peran kompleks ini dengan anggun, menginspirasi banyak orang untuk tetap autentik di tengah tekanan.